Sistem Tata Suara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke 71

Dua hari lagi, perhelatan rutin Peringatan Detik-detik Proklamasi RI ke 71, 17 Agustus 2016, akan dilaksanakan. Salah satu komponen pendukung rangkaian acara di halaman Istana Merdeka Jakarta adalah sistem Tata Suara yang digunakan untuk melayani seluruh kegiatan mulai pagi hingga sore hari.

Meskipun untuk pertama kalinya sejak 12 tahun yang lalu terjadi beberapa perubahan rangkaian acara yang cukup signifikan, khususnya dalam hal kegiatan non Militer, secara garis besar Sistem Tata Suara yang digunakan tidak banyak berubah dari sistem yang dirancang pada tahun 2004. Perbedaan Sistem 2016 lebih pada pemilihan jenis komponen penyusun sistem (Loudspeaker, microphones, dsb).

Vendor penyedia Sistem Tata Suara tahun 2016 masih sama seperti pada tahun 2015, V8 Sounds yang dikomandani Harry Kiss. Beberapa Loudspeaker dan Microphone type baru diperkenalkan pada tahun ini.

Untuk formasi Upacara Militer, V8 sounds melakukan beberpa penggantian dari sistem mereka di tahun 2015:

  1. Sidefront fill Loudspeaker dengan V8 Legend Titik Puspa (Loudspeaker type ribbon) untuk menemani Main Loudspeaker yang tetap dipercayakan pada V8 Cluster Merah Putih.
  2. Loudspeaker tenda VIP dan VVIP kanan-kiri menggunakan V8 Karimata (pasif loudspeaker 8 inch, dengan dispersi vertikal yang spesifik)
  3. Loudspeaker delay di Tenda kanan dan kiri menggunakan V8 Nusantara.
  4. Loudspeaker side fill area Kepresidenan menggunakan V8 Istana Premium (6 inch, passive)
  5. Loudspeaker Monitor untuk area Presiden menggunakan V8 Merdeka Istana
  6. Loudspeaker untuk area teras Merdeka menggunakan V8 Istana 12 (12 inch, active).
  7. Microphone Pembaca naskah Proklamasi dan Doa menggunakan RI 1 golden leaf

Untuk formasi Aubade, perbedaan utamanya adalah perubahan V8 Soekarno dari type active (2015) menjadi pasisive.

Beberapa perubahan rangkaian acara dilakukan tahun ini, misalnya:

  1. Bendera Pusaka dan Naskah asli Proklamasi diarak dari Monas menggunakan Kereta Kuda
  2. Sebelum Upacara Militer, didahului dengan acara gladi kesenian yang menjadi rangkaian dari Upacara Militer dan Aubade.
  3. Acara Gladi seni dilanjutkan segera setelah Pasukan TNI dan Polri meninggalkan tempat upacara, 2 group band direncanakan berpartisipasi dalam sesi ini.

Perubahan ini tentu saja mempengaruhi Sistem Tata Suara yang digunakan untuk melayaninya, khusunya dalam hal siwtching antar sistem Upacara Militer dan Aubade/Gladi seni yang sekuens nya menjadi lebih rumit dari tahun-tahun sebelumnya.

Semoga perhelatan acara pada tanggal 17 Agustus 2016 nanti dapat terlaksana dengan lancar,  meriah dan sukses.

 

Advertisements

Sistem Tata Suara Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 2015

Alhamdulillah, perhelatan akbar tahunan Upacara peringatan detik-detik Proklamasi 17 Agustus 2015 di Istana Merdeka Jakarta telah berlangsung dengan aman dan lancar. Rangkaian upacara terdiri dari Upacara Penaikan bendera di pagi hari, Gladi Seni dan siang hari, dan Penurunan bendera di sore hari. Untuk perhelatan tahun ini, vendor sistem tata suara kembali dipercayakan kepada pelaksana tahun 2014, yaitu PT Pasukan Pengibar Suara yang dikomandani oleh Harry Kiss.

7seriesGambar 1. V8 Presidential Series

Sistem Tata Suara yang digunakan tahun ini dibagi menjadi 2 sistem utama yaitu Sistem Tata Suara Upacara dan Sistem Tata Suara Aubade. Sistem Tata Suara Upacara digunakan untuk melayani kegiatan Upacara penaikan dan penurunan Sang Saka Merah Putih, serta acara Gladi Seni. Sedangkan Sistem Tata Suara Aubade, digunakan untuk melayani penampilan Aubade yang menjadi bagian dari upacara Penaikan bendera. Sistem Tata Suara hanya aktif saat kegiatan upacara dan gladi seni, sedangkan Sistem Tata Suara Aubade hanya aktif pada saat Aubade. Kunci keberhasilan sistem ada pada kerja sama tim dan pengaturan switching dan delay yang “inch perfect

Sistem Tata Suara Upacara yang digunakan tahun 2015 ini tetap menggunakan konsep kombinasi Cluster Loudspeaker dan Distributed delay sebagaimana tahun 2014, tetapi menggunakan jenis loudspeaker yang berbeda. Konsep yang diusung adalah Loudspeaker seri 7 presiden (lihat Gambar 1). Main Loudspeaker yang digunakan adalah Cluster Loudspeaker V8 Merah Putih (Gambar 2) dan Outfill Wing Kanan-Kiri menggunakan Planar Membrane Loudspeaker V8 Megawati (Gambar 3). Main Loudspeaker ini dilengkapi dengan 4 unit Subwoofer V8 Solo 18 inch. Di panggung utama digunakan front fill Mid-High Loudspeaker V8 Jokowi, side fill Mid-High Loudspeaker V8 Nusantara, serta Monitor Mid-High Loudspeaker V8 Merdeka. Sistem dilengkapi dengan Subwoofer 15 inch. Untuk area dibelakang panggung utama dilayani oleh Loudspeaker Mid-High yang terdiri dari V8 Nusantara, V8 Ainun-Habibie dan V8 Soeharto. Panggung VIP kanan kiri Panggung Utama dilengkapi dengan V8 Nusantara plus Subwoofer 12 inch V8 Sandrina, sedangkan panggung hadirin di kanan kiri dilayani oleh Loudspeaker Mid-High delayed V8 Nusantara plus plus Subwoofer 12 inch V8 Sandrina. Microphone yang digunakan dalam Sistem ini adalah:

  • Inspektur Upacara menggunakan Clip On V8 Chiara dikombinasi dengan V8 JS 273 (kondenser, cardioid)
  • Komandan Upacara menggunakan Clip On V8 Danup
  • Pembaca Proklamasi dan Doa menggunakan V8 Gold Series RI-1
  • MC menggunakan V8 Chiara
  • Korsik (Korps Musik) menggunakan V8 JS 273
  • Gladi Seni menggunakan clip on V8 Chiara (penyanyi), V8 Chiara HD (penyanyi) dan V8 Instrument Mic

frontView2

SSUpacara

 Gambar 2. View Panoramic Sistem Tata Suara Upacara

Megawati

Gambar 3. Outfill Loudspeaker V8 Megawati

Sistem Tata Suara Aubade juga menggunakan Sistem Kombinasi Cluster Loudspeaker dan Distributed delay. Distributed delay yang digunakan sama persis dengan sistem Tata Suara upacara, hanya urutan delaynya dibalik, karena posisi main speaker di panggung aubade. Main Loudspeaker yang digunakan adalah dari seri V8 Soekarno yang dikombinasikan dengan Subwoofer V8 Sub Duo 18. Monitor yang digunakan untuk penampil Aubade adalah V8 Raska, V8 Aliya dan V8 Santorini. Penampilan Aubade merupakan kombinasi antara orkestra dan choir, beberapa microphone yang digunakan adalah V8 CM510, V8 JS 273, V8 Instrument Mic dan AKG 411.

PanggungUtamaPresView3

p80PresView1

PresView2

Gambar 4. View dari Panggung Utama

SoekarnoGambar 5. Cluster Loudspeaker V8 Soekarno

Korsig1Korsig3Gambar 6. Korps Musik

Kedua sistem dilengkapi juga dengan Near Field Monitor V8 Gus Dur di FoH, dan V8 SBY di area halaman dalam Istana dan area sekitar panggung Aubade. Amplifier yang digunakan pada kedua sistem adalah V8 Red Series, yang dilengkapi dengan Digital Signal Processor V8 DSP 448.

AB

Gambar 7. Front Fill Loudspeaker V8 Jokowi pada tiang, Monitor V8 Merdeka di kiri tengah, dan Cluster Loudspeaker V8 Merah Putih di kanan atas

Sebelas tahun bertugas mensupervisi kegiatan terkait Sistem Tata Suara Upacara Peringatan Detik-detik proklamasi ini (dengan 3 Presiden yang berbeda) membuat saya banyak belajar untuk semakin memahami bahwa hanya dengan kerja keras dan smart, teamwork yang baik, komunikasi dengan tim lain yang terkait, pemahaman akan karakter host (Presiden dan tim ), dan tidak melupakan peran Sang pencipta lah  hasil yang baik dapat diperoleh. Dirgahayu Kemerdekaan RI ke 70. MERDEKA!!!.

Akustik Ruang Kelas #2

Akustik merupakan aspek yang sangat penting bagi ruang kelas. Kondisi akustik ruang kelas yang buruk pada umumnya ditunjukkan oleh tingkat bising yang berlebihan dan waktu dengung yang terlalu panjang. Kondisi akustik yang buruk dalam ruang kelas akan mengganggu proses belajar mengajar karena mempengaruhi persepsi suara ucap, perilaku siswa dan pada akhirnya luaran proses belajar mengajar. Sebaliknya, kondisi akustik yang baik akan meningkatkan kejelasan suara ucap di dalam ruang kelas dan membatasi bising latar belakang. Kondisi akustik yang baik ini akan menjamin kualitas suara ucap bagi siswa maupun guru yang beraktifitas di dalam ruang kelas.

Kejelasan suara ucap di dalam ruang kelas dipengaruhi oleh arsitektural ruang, misalnya bentuk ruang, ukuran ruang, dan material penyusun ruang kelas (selubung dan interior). Kejelasan suara ucap yang rendah (buruk) tidak hanya mengganggu siswa dengan problem pendengaran (hearing loss) saja, tetapi juga siswa yang memiliki pendengaran normal. Di dalam usaha menciptakan kejelasan suara ucap yang baik, guru pun bisa jadi akan mengalami cedera ucapan (fisik) karena senantiasa dalam jangka waktu yang cukup lama harus berbicara (berucap) dengan level yang jauh lebih besar dari tingkat bising latar belakang (background noise).

Pada umumnya, pentingnya memperbaiki kondisi akustik ruang kelas dengan mudah menarik perhatian pengelola sekolah apabila menyangkut kebutuhan siswa-siswa yang memiliki problem tidak bisa mendengar (hearing loss). Akan tetapi, pentingnya memperbaiki kondisi akustik terkadang tidak menjadi prioritas bagi:

  • Siswa berumur < 15 tahun, yang sebenarnya belum matang betul perkembangan bahasanya. Kelompok usia ini pada umumnya merupakan penyimak suara ucap yang tidak efektif bila kondisi lingkungannya memiliki tingkat bising yang tinggi.
  • Siswa yang memiliki: problem belajar, terlambat perkembangannya (delayed development children), gangguan pada pemroses informasi auditory, problem suara ucap dan bahasa, problem emosi dan perilaku, dan masalah kesehatan non telinga.
  • Proses belajar mengajar yang menggunakan BUKAN bahasa ibu (non native language) sebagai bahasa pengantar utama.
  • Guru yang seharusnya cukup menggunakan tingkat suara ucap normal, tanpa perlu berteriak.

Sumber utama bising pada ruangan kelas dapat dibedakan menjadi:

  • Sumber bising yang berasal dari luar bangunan sekolah, misalnya bising jalan raya, bising ruang bermain luar ruangan, pesawat terbang (jet) yang melintas.
  • Sumber bising yang berasal dari dalam bangunan sekolah, misalnya suara langkah kaki di koridor, percakapan di koridor, suara dari kantin, suara bel, aktifitas dari kelas sebelah.
  • Sumber bising yang berasal dari dalam ruang kelas, misalnya suara mesin AC, suara alat elektronik, suara dari pipa utilitas.

Pada sisi yang lain, waktu dengung yang berlebihan juga menyebabkan kejelasan suara ucap menjadi rendah. Hal ini disebabkan oleh berlebihannya pantulan energi suara ucap yang dihasilkan oleh permukaan dalam ruang kelas. Berlebihnya energi suara pantulan ini akan menimbun energi suara langsung yang seharusnya lebih dominan. Kombinasi bising dan waktu dengung yang berlebihan inilah yang membuat kondisi akustik ruang kelas buruk. Idealnya, perbandingan energi suara/informasi utama yang disampaikan guru terhadap energi bising latar belakan adalah > 15 dB. Jika ini dipenuhi, maka guru cukup berbicara dengan tingkat suara ucapan normal, dan tidak perlu berteriak sepanjang proses belajar mengajar, jika ingin siswanya mempersepsi informasi yang disampaikannya dengan tingkat kejelasan yang baik.

Untuk menciptakan kondisi akustik yang baik, pertimbangan desain perlu diberikan pada saat sebuah gedung sekolah dibangun. Apabila hal tersebut luput dilakukan, perlu dilakukan evaluasi untuk melihat kinerja akustik setiap kelas, dan melakukan koreksi yang tepat sesuai dengan tingkat keburukan problem kejelasan suara ucapnya. Pada umumnya koreksi dilakukan dengan melakukan modifikasi fisik pada permukaan dalam ruang kelas, misalnya membuat langit-langit gantung, memasang penyerap energi suara (acoustics absorbers or diffusers) pada dinding, memasang karpet pada lantai, atau mengubah formasi tempat duduk, serta memanfaatkan furniture dalam kelas untuk menghalangi permukaan-permukaan keras di dalam ruang.Sistem tata suara sebaiknya hanya digunakan apabila suara guru tidak dapat menjangkau seluruh tempat duduk dengan tingkat energi yang normal atau apabila ada siswa yang memiliki kebutuhan khusus untuk mendengar suara ucap atau apabila SNR (Signal to Noise Ratio, perbandingan antara sinyal suara guru dibandingkan dengan bising latar belakang) kurang dari 15 dB. Dalam hal ini, perlu pertimbangan khusus dalam memilih sistem tata suara yang baik. Sistem tata suara yang digunakan seharusnya tidak hanya bisa menghasilkan suara yang keras saja, tetapi yang lebih penting adalah harus bisa menjamin tingkat kejelasan suara ucap (speech intelligibility) di setiap tempat duduk siswa. Siswa harus bisa menyimak (listening), bukan hanya mendengar (hearing) pada saat menjalani aktifitas di dalam kelas, demikian pula dengan guru. Jenis microphone dan loudspeaker yang digunakan serta posisi pemasangannya menjadi faktor yang krusial.

Sistem Tata Suara Upacara Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke 69 tahun 2014 di Istana Presiden, Jakarta

Upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ke 69 akan dimulai 1 hari lagi. Istana Presiden RI di Jakarta sebagai tempat diselenggarakannya acara utama yang dipimpin langsung oleh Presiden RI sudah hampir selesai bersolek. Saat artikel ini ditulis, tinggal pekerjaan dekorasi bunga dengan tema utama Jawa yang sedang berlangsung. Salah satu komponen pendukung acara yang berperan untuk suksesnya acara sehari penuh itu adalah Sistem Tata Suara (Sound System), terutama untuk kegiatan Upacara Bendera, Aubade, dan acara kesenian. Pelaksana yang ditunjuk untuk melaksanakan penyediaan sistem tata suara ini, dipilih melalui sistem tender elektronik.

Area Utama

Area Utama

Tahun 2014 ini, yang merupakan tahun ke 10 keterlibatan saya di acara ini, saya tidak diminta terlibat dari awal pemilihan penyedia jasa sistem Tata Suara, tetapi hanya diminta melakukan supervisi pelaksanaan, mulai gladi sampai hari H. Pelaksana kegiatan yang ditunjuk panitia 17 Agustus masih sama dengan tahun lalu. Yang membedakan adalah jenis-jenis Loudspeaker yang digunakan. Hal ini tetntunya mempermudah saya dalam melakukan koordinasi di lapangan. Gladi upacara dan aubade sudah selese dilaksanakan dengan lancar pada tanggal 14 Agustus 2014, sedangkan gladi kesenian yang menampilkan tarian Krincing Emas (DIY), persembahan lagu-lagu (Elfa’s Children Choir, Bastian, dan Baranita Diva), Tarian Kolosal dari UNJ, Marching Band Chevron, dan Tarian kolosal dari Pacitan Bumi Kaloka, sudah dilaksanakan dengan baik tanggal 15 Agustus 2014.

C360_2014-08-16-11-13-20-479

Sistem tata suara yang disediakan meliputi 2 sistem independent utama, tetapi bisa saling berkomunikasi, dan 1 sistem tambahan. Sistem utama pertama digunakan untuk melayani kegiatan Upacara Detik-detik Proklamasi , sedangkan sistem utama kedua digunakan untuk melayani kegiatan Aubade yang dilakukan begitu upacara selesai. Untuk kedua jenis kegiatan utama tersebut, daerah pendengar (audience areas) yang harus dilayani terdiri dari Tenda Utama di bagian depan Istana Merdeka (tempat Presiden, para Mentri, Anggota Dewan dan Duta Besar negara sahabat berada), Halaman depan istana Merdeka (tempat pasukan ABRI dan POLRI berbaris, termasuk Paskibraka), tenda samping kiri-kanan halaman Istana Merdeka (tempat undangan), serta tenda Aubade di sisi luar pagar menghadap ke Istana Merdeka). Sistem tambahan adalah sistem tata suara kecil yang tersebar di panggung-panggung kesenian daerah untuk menyambut tamu undangan.

C360_2014-08-16-11-14-32-066

Sistem utama pertama digunakan 2 kali pada tanggal 17 Agustus, yaitu pada Upacara Detik-detik Proklamasi yang biasanya dimulai 10 menit sebelum jam 10 pagi sampai selesainya Aubade, dan pada Upacara penurunan bendera di sore hari. Sistem ini menggunakan 2 cluster Loudspeakers utama yang menghadap ke arah pasukan Upacara, beberapa subwoofer yang terdistribusi di beberapa area, serta Loudspeakers distribusi terdelay di area VIP, setiap tenda (tenda samping kiri kanan dibagi masing-masing menjadi dua baris dengan zone delay yang berbeda-beda) dan tempat berkumpul pasukan dan paskibraka. Microphones yang disediakan adalah mic untuk Master of Ceremony (MC), Komandan Upacara, Inspektur Upacara (Presiden RI), Pembaca Teks Proklamasi, Pembaca doa, dan Mics ambient untuk pasukan, korsig dan paskibraka. Pengendali utama sistem ini berada di sisi kiri tenda Utama di dalam koridor depan Istana Merdeka. Target disain utama adalah suara harus berwibawa, jelas (clarity dan intelligibility speech tinggi) dan bebas dari Feedback.

C360_2014-08-16-11-17-13-733

Sistem utama kedua, digunakan untuk melayani kegiatan Aubade yang dilaksanakan pada bagian akhir Upacara Detik-detik Proklamasi. Loudspeakers utama berupa sepasang Line Array Loudspeakers yang terpasang di kanan kiri panggung Aubade, menghadap ke Istana, dan Loudspeakers Distribusi terdelay yang sama dengan yang digunakan di sistem utama pertama. Perbedaan sistem Loudspeakers distribusi ini terletak pada sistem delay nya. Microphones yang digunakan lebih banyak, yaitu untuk melayani instrument orchestra, penyanyi solo, dan Paduan Suara. Pengendali utama sistem ini terletak di tenda Aubade, tetapi terkoneksi dengan pengendali sistem utama pertama. Target desain utama adalah suara harus seimbang (tonal balance), harmonis (spectrum frequency), jelas (clarity dan intelligibility musical tinggi), warm (komponen frekuensi rendah cukup), timbre yang sesuai, listening level dan strength yang cukup, dan tidak feedback. Hal yang unik dari sistem ini adalah sweet spot berada di area pasukan, tetapi harus bisa menciptakan sweet spot tambahan di area Tenda Utama (Tenda Presiden). Pengaturan delay yang tepat dan pemilihan dan penempatan loudspeaker fill ini, menjadi kunci utama suksesnya sistem ini.

C360_2014-08-16-11-18-32-105

Semoga kegiatan tahun ini yang dimulai sejak 5 hari lalu ini lewat beberapa gladi dan dilaksanakan kembali oleh provider ke 4  akan memberikan hasil yang memuaskan. Dirgahayu ke 69 Republik Indonesia.

Pentingnya Akustik untuk Ruang Kelas Anak-anak

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi proses belajar mengajar pada anak-anak di dalam kelas adalah terjaminnya proses komunikasi yang baik antara guru dan murid (dan sebaliknya). Dua faktor utama yang mempengaruhi proses mendengar di dalam ruangan kelas adalah kondisi akustik ruang kelas dan kemampuan mendengar anak (murid). Kondisi Akustik ruang kelas yang harus diperhatikan terutama adalah tingkat kebisingan dan waktu dengung ruang, serta rasio suara terhadap bising  (SNR).

Tingkat  kebisingan suara yang terjadi di ruangan kelas disebabkan oleh sumber dari luar ruangan (misalnya kendaraan yang lewat di jalanan di sekitar sekolah, aktifitas di dalam dan di luar lingkungan sekolah) dan sumber di dalam ruangan kelas (misalnya suara murid-murid, suara AC). Suara-suara tersebut pada akhirnya akan berkompetisi dengan suara guru, sehingga mengganggu proses komunikasi antara guru-murid dan sebaliknya. Jika tingkat bising terlalu tinggi, suara guru akan tenggelam di dalam bising, sehingga guru harus meningkatkan tingkat energi suara yang dikeluarkan (akibatnya guru lebih mudah letih). Faktor utama yang bisa digunakan untuk mengendalikan kebocoran/intrusi bising dari luar ruang kelas adalah dengan memastikan semua bukaan yang ada di ruang kelas memiliki sistem insulasi suara yang baik, sedangkan untuk mengendalikan bising yang bersumber dari dalam ruang kelas itu sendiri adalah dengan mengendalikan tingkat bising sumber yang menghasilkan suara.

Waktu dengung ruangan kelas memegang peranan penting dalam menciptakan tingkat kejelasan suara ucap dalam ruang. Waktu dengung ruang pada dasarnya berkaitan dengan jumlah energi pantulan yang dihasilkan oleh permukaan dalam ruangan, yang pada akhirnya mempengaruhi seberapa lama suara bertahan di dalam ruangan tersebut. Jumlah energi pantulan yang berlebihan ini akan berinteraksi dengan suara langsung dari guru yang datang ke telinga murid. Jika suara pantulan lebih dominan dari suara langsung, maka tingkat kejelasan suara ucapan akan menurun. Untuk mengatasi suara pantulan yang berlebihan ini, atau dengan kata lain menurunkan waktu dengung ruang kelas, dapat digunakan material penyerap suara, tentunya yang terbuat dari bahan yang aman bagi kesehatan respirasi murid dan guru. Waktu dengung yang disarankan untuk ruangan kelas adalah 0.45 – 1 detik tergantung dari volume ruangannya.

Selain Waktu Dengung ruang, Rasio Suara terhadap bising (Signal to Noise Ratio, SNR) adalah faktor akustik yang sangat mempengaruhi tingkat kejelasan suara ucapan di dalam ruangan kelas. Faktor ini terkait dengan seberapa besar energi suara ucap yang harus dihasilkan seorang guru dibandingkan dengan tingkat bising yang ada di dalam kelas. Suara guru berperan sebagai sinyal dan bising latar belakang (dan waktu dengung) memberikan kontribusi pada Noise Level. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat energi suara yang dihasilkan guru disarankan 15 dB diatas tingkat bising di ruang kelas (Untuk dapat memahami percakapan secara komprehensif, anak-anak memerlukan guru berbicara  9 dB lebih keras dibandingkan orang dewasa). Apabila hal tersebut dapat dicapai, maka proses belajar mengajar akan berlangsung dengan komprehensif karena murid dapat memahami dengan baik apa yang disampaikan oleh guru mereka. Untuk mengatasi masalah ini, penggunaan sistem tata suara yang baik menjadi solusinya. Sistem tata suara yang tidak hanya menghasilkan energi yang cukup, tetapi juga yang dapat menghasilkan tingkat kejelasan suara ucap (speech intelligibility) yang baik.

Hal lain yang perlu dicatat adalah, otak manusia baru berkembang sempurna pada saat usia mencapai 15 tahun. Hal ini juga mempengaruhi kemampuan mendengar manusia, karena sistem auditory nerve terkait dengan perkembangan otak. Oleh karena itu, kondisi lingkungan mendengar di ruangan belajar (ruang kelas) untuk  anak-anak ( < 15 tahun) menjadi lebih kritis dibandingkan dengan orang dewasa (>15 tahun). Sebagai konsekuensi logis dari kondisi ini, pertimbangan akustik pada perancangan ruang kelas untuk anak-anak (TK, SD dan SMP) menjadi lebih perlu diperhatikan dibandingkan dengan ruang kelas untuk remaja-dewasa (SMA dan Perguruan Tinggi).

Note: disarikan dari website http://www.classroomhearing.org/summary.html