Soundwalk di Kampus ITB

Kamis, 6 Maret 2014 Kuliah Topik Khusus Teknik Fisika ITB saya isi dengan aktifitas di luar kelas dengan topik Soundscape dan Akustika Ruang. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran nyata pada mahasiswa tentang materi ajar yang mereka dapatkan di dalam kelas. Ada keinginan sebelum masa perkuliahan dimulai untuk membawa mahasiswa ke luar kampus untuk mengunjungi bangunan-bangunan spesifik terkait dengan materi kuliah (akustik, lighting, thermal dan energi), akan tetapi setelah hari pertama kuliah dirasakan tidak memungkinkan karena peserta kuliah lebih dari 50 orang. Alhamdulillah di dalam kampus ITB cukup banyak lokasi dan bangunan yang bisa dijadikan studi kasus. Untuk kasus pertama aktifitas dipilih topik soundscape dengan cara Soundwalk, ditambah aktifitas tambahan tentang akustika ruangan di Aula Timur ITB.

Soundwalk adalah sebuah metode yang digunakan untuk mendapatkan persepsi sonic environment oleh manusia. Pada prinsipnya, manusia diminta untuk berjalan dengan silent (tidak sambil bercakap-cakap) dan menggunakan telinganya untuk mendengarkan dan menyimak suara-suara yang diterimanya sepanjang rute perjalanan. Di akhir perjalanan, manusia diminta untuk memberikan rangkuman pengalaman audial yang mereka peroleh. Dalam kegiatan kali ini, mahasiswa peserta kuliah saya bagi menjadi 4 kelompok, dan melakukan soundwalk ke 4 penjuru mata angin di ITB. Soundwalk dimulai dari Plaza Widya Nusantara dan berakhir kembali ditempat yang sama. Peralatan yang digunakan adalah alat tulis dan notes kecil, telinga masing-masing dan alat perekam sederhana (mobile phone) bilamana diperlukan. Saya sendiri mengambil rute perjalanan separuh kampus ITB bagian Timur.

Berikut ini adalah beberapa cuplikan resume pengalaman soundwalk yang dilakukan:

” …. Soundwalking membuat saya ‘mendengar’ banyak bunyi….” – Riska Susanti

“Pagi ini, langkah saya pada anak tangga sumber gaung disambut dengan bising yang tidak biasanya saya dengar. Semakin saya berjalan ke arah timur, bising semakin terdengar. Gedung Mekanika Tanah, disanalah sumber bising terletak. Saya jarang sekali melalui jalur ini. Pun saya melewati jalur ini untuk memenuhi asupan gizi di kantin yang terletak di kawasan ini, suara bising tidak pernah sekeras pagi ini. Namun, semakin saya bergerak ke arah timur dari kampus ini, saya menemukan satu hal yang membuat saya cukup terkejut. Kampus ini masih dihuni oleh banyak burung dengan berbagai jenis spesies serta variasi suara yang berbeda. Kumpulan suara burung ini mulai terdengar ketika saya melangkahkan kaki ke arah Kantin Bengkok. Yang unik adalah, suara burung dan serangga semakin terdengar ketika saya memasuki daerah Fakultas Teknologi Tambang dan Minyak. Mereka ada. Jika dianalogikan dengan komputer, suasanya pada kawasan ini telah berhasil menekan tombol F5 yang ada dalam pikiran saya. Suasana ini hilang ketika saya mendekati Gedung Perpustakaan pusat ITB. Suara kendaraan sudah mendominasi dan mengalahkan riuhnya kicauan burung. Begitu juga ketika saya dan teman-teman memutuskan mendengarkan Bandung dari lantai 8 Gedung PPAU. Saya tidak bisa lagi mendengar suara mereka yang nyaring dan saling bersahutan. Kali ini saya hanyalah mendengar runtutan suara knalpot kendaraan bermotor yang sesekali diselingi oleh suara klakson. Jika tadi pikiran saya sudah ter-refresh dengan suara-suara burung yang cerewet, suasana kali ini berhasil membuat kening saya bergaris. Ya, kampus ini indah dengan segala sudut-sudutnya yang memiliki suasana tersendiri.” – Arinda P. Rachman

“…meskipun sekali-dua cicit Estrildidae dan goyangan ranting dedaunan akibat lompatan Tupaia Javanica juga terdengar.” – Firman Gusti

” …. .. Dari semua hal yang kami temukan selama perjalanan tersebut, ada satu hal yang sangat menarik perhatian saya, yaitu suara burung. Hampir di semua tempat yang kami lalui terdengar suara burung berkicau. Walaupun saya tidak dapat melihat burung-burung tersebut, saya dapat mengetahui bahwa jumlah burung di setiap tempat tidak sama. Di tempat yang tenang dan tidak banyak orang beraktivitas seperti di Gedung Labtek Pertambangan dan Metalurgi, kicauan burung terdengar lebih ramai daripada di tempat yang ramai. Dari hal tersebut saya menyimpulkan bahwa burung-burung lebih menyukai tempat-tempat yang tenang dimana tidak banyak orang beraktivitas. Tidak menutup kemungkinan fauna lain yang hidup di dalam lingkungan Kampus ITB Ganesha pun mengalami hal yang sama. Maka apabila ‘penghuni’ Kampus ITB Ganesha semakin ramai, mungkin saja tidak akan ada lagi hewan yang hidup di dalam lingkungan kampus.” – Iva Azzahra

“Pertama-tama kesan yang dirasakan adalah tenang dan nyaman, dengan suara burung yang berkicau dan beberapa orang yang lewat, sesekali juga terdengar suara dari petugas kebersihan yang sedang menyapu dedaunan. Namun ketika melewati lingkar luar barat ITB, mulai terdengar suara-suara bising yang berasal dari jalan raya. Suara-suara dari kendaraan bermotor dapat terdengar dengan jelas dari rute tersebut. Belum lagi ketika melewati gedung SBM, suara yang terdengar semakin bermacam-macam. Mulai dari suara kendaraan bermotor dari jalan raya, yang lalu lalang didalam kampus melewati gerbang SBM, suara satpam maupun peluitnya yang sedang mengatur lalu lintas, bahkan terdengar suara musik yang cukup keras yang sepertinya berasal dari pangkalan ojek yang terletak di depan gerbang. Yang menurut saya paling menarik adalah ketika saya dan teman-teman melewati sunken court, dimana ketika melewati nya langsung terasa bahwa sunken court ini adalah salah satu area di kampus ITB yang dari pagi hingga malam selalu ada saja aktifitas yang terjadi karena disinilah dimana orang-orang yang memiliki kegemaran yang sama, hobi yang sama, atau asal yang sama bertemu dan melakukan kegiatan yang mereka suka bersama-sama. Sehingga area ini terasa merupakan area yang paling “hidup” diantara yang lainnya.” – Rhea Aqmarina

“Sehubungan dengan kuliah Topik Khusus A tentang sound walk, saya memilih tempat di sekitar lapangan sipil dan sebelah aula barat ITB (pada hari kuliah sayaberhalangan hadir karena sakit). Ketika saya melakukan sound walk sekitar jam 11.00 siang, suara yang terdengar jelas adalah kicau burung dan kendaraan yang sesekali lewat dari arah Jalan Taman Sari dan Ganesha. Dari arah pepohonan di sekitar lapangan tersebut ada sekitar lebih dari 2
jenis suara burung yang berbeda, berselangseling. Sedangkan suara kendaraan lebih didominasi oleh suara mesin mobil (sepertinya suara angkutan kota) dan klakson kendaraan. Pada saat itu angin berhembus cukup kencang, suara gemerisik daun juga sesekali terdengar. Dari kejauhan, arah himpunan sipil, saya mendengar suara obrolan mahasiswa. Tidak terlalu jelas, namun cukup terdengar.Tidak terlalu banyak ragam suara yang terdengar pada saat itu, mugkin karena masih dalam jam kuliah dan sebagian besar mahasiswa masih berada dalam kelas. Suara kicau burung paling dominan pada jamjam
tersebut karena lingkungan kampus ITB cukup rindang berpohon.” – Cecilia Tities G

” …. Suasana yang menarik dan menenangkan hati kembali terasa ketika kami berbelok memasuki lorong terluar Program Studi Teknik Sipil. Suasana begitu hening dan sayup-sayup terdengar suara burung di antara pepohonan. Suara burung itu semakin terdengar ketika kami berjalan melewati Lapangan Sipil dan membuat saya pribadi terbuai dengan suara tersebut. Rasanya ingin sekali memejamkan mata sambil berbaring di antara rerumputan hijau ini.
Sekali lagi dan lagi, suasana tersebut rusak oleh suara bising kendaraan yang lewat. Lapangan Sipil ini memang dekat dengan Jalan Ganeca di bagian Selatan dan Jalan Taman Sari di bagian Barat. Terlebih Lapangan Sipil ini juga sangat dekat dengan pintu masuk motor dan tempat parkir. Kami sedikit melewati tempat parkir motor di sana, namun tidak terlalu bising. Hanya suara tiga atau empat pengendara yang sedang memarkirkan motornya…. ” – Yulia Rahmawati

“Luar Biasa. Pengalaman pertama saya ‘mengamati’ dengan cara mendengarkan secara seksama ini dilakukan pada sayap tenggara kampus ITB Ganesha. Rute yang dilalui adalah Plaza Widya Nusantara-sayap kiri Labtek VIII-selasar prodi Teknik Lingkungan-prodi Kriya-Prodi Geodesi-sayap kiri prodi Planologi-Arsitektur-jalur teduh Parkiran SR-jalan Ganesha depan Parkiran SR-Lapangan SR-sayap kiri Aula Timur-ATM Center (boulevard)-Campus Center-Monumen Soekarno-Air Mancur Indonesia Tenggelam-Plaza Widya Nusantara. Secara umum sisi tenggara kampus ITB relatif sepi dan rimbun. Disekitar labtek VIII, suara didominasi oleh pekerjaan perawatan kampus seperti alat pemotong rumput dan suara menyapu dedaunan. Di sekitar prodi Teknik Lingkungan, suara didominasi oleh kegiatan laboratorium ayng kebetulan bisa diintip dari luar. Saya baru sadar bahwa dentingan suara peralatan laboratorium sedemikian berdenting dan nyaring. Sensasi pendengaran menenangkan ditambah udara sejuk saya rasakan di sekitar Labtek Planologi dan Arsitektur. Tidak terdapat polusi suara yang tinggi pada area ini. Hal yang unik adalah sebagian besar suara latar di area Planologi dan Arsitektur bersumber dari outdoor unit AC yang dipasang relatif rendah disamping gedung. Pada selasar samping kompleks gedung SR, terdengar sayup-sayup percakapan yang tidak dapat dengan jelas ditangkap. Hal yang unik pada area ini adalah beberapa kali terdengar suara serangga. Hal ini kemungkinan terjadi karena masih banyaknya pepohonan di area ini. Berlanjut ke area Parkiran SR, suara yang mendominasi adalah kendaraan bermotor yang berlalu lalang. Ketika pengamatan dilanjutkan ke area lapangan SR, kombinasi sengatan matahari pagi dan suara latar dengan level rendah membuat suasana di area ini sangat nyaman. Pada area dari Aula Timur sampai Campus Center, suara yang mendominasi adalah percakapan penduduk kampus dan lalu lalang kendaraan bermotor. Dari Campus Center ke Plaza Widya Nusantara, kembali suara didominasi oleh air mancur Indonesia Tenggelam. Dari pengalaman unik ini saya berkesimpulan bahwa suasana yang menyatu dengan alam, termasuk suara, memberi sensasi yang menenangkan. Kampus ITB Ganesha perlu memberi perhatian penuh pada penanaman kembali pohon untuk memberikan habitat yang baik tidak saja bagi manusia didalamnya namun bagi makhluk hidup lain seperti serangga dan burung. Selain itu pembatasan kendaraan bermotor juga sepertinya perlu diperhatikan untuk menjaga pencemaran ambang suara. Suara nyaman tentunya membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan.” – Kumowarih

“… Hal kedua yang saya sadari adalah bahwa kesan nyaman yang ditimbulkan dari suara-suara natural yang ada di ITB tidak hanya berasal dari suara atau audio itu sendiri saja, akan tetapi juga didukung oleh kesan pemandangan visual yang baik, karena tidak bisa dipungkiri bahwa kampus ITB adalah salah satu dari sedikit kampus yang masih bernuansa hijau bila dibandingkan dengan kampus-kampus lainnya di luar sana. Bisa kita bayangkan bila suara-suara alam yang kita dengar dihadapkan dengan pemandangan yang tidak enak seperti gedung-gedung yang rusak dan kotor karena tidak terurus, atau tempat pemukiman yang sangat kotor, dan lain-lain. Pemandangan seperti itu akan merusak seluruh kesan nyaman dan menenangkan yang
ditimbulkan oleh suara-suara alam tersebut. Hal ini berlaku sebaliknya karena pemandangan seindah apa pun bila diganggu dengan suara yang tidak enak didengar seperti suara mesin berat dan sebagainya, dapat merusak pemandangan yang tengah kita nikmati. Maka dari itu kita pasti mengenal ruangan yang disebut dengan audiovisual, dan perjalanan soundscape ini menyadarkan saya bahwa aspek-aspek audio dan visual yang ada disekitar kita merupakan suatu perpaduan yang saling mendukung satu sama lain.” – Primadhya

“Perjalanan dimulai dari bagian tengah kampus, Plaza Widya. Terdengar suara air mancur dimana terdapat suara air yang bertabrakan dengan air, dan suara air yang bertabrakan dengan ubin. Keduanya menciptakan suara yang berlainan namun terdengar seirama dan kontinu. Di laboratorium sipil terdengar suara orang yang sedang menggunakan gergaji dan juga suara orang sedang mengangkut barang keatas mobil pickup, terdengar suara besi tipis yang penyok kemudian kembali ke keadaan semula. Tak jauh dari sana, kearah kantin bengkok, terdengar suara burung (tunggal), piring, sendok, dan garpu yang sedang dicuci. Sesekali terdengar suara kerupuk yang sedang digigit. Melewati daerah timur jauh, terdengar suara fan dari AC yang saling bertumpukan, suara puluhan burung pipit, dan juga suara seekor tonggeret. Di poolbus terdengar suara pekerja yang menggunakan las dan juga suara linggis yang ditumbukkan ke tanah, suara burung pipit mulai berkurang. Semakin ke selatan terdengar semakin banyak suara kendaraan baik dari arah kiri maupun kanan. Perjalanan dilanjutkan ke gedung PAU. Ketika memasuki gedung, banyak suara sepatu yang bertabrakan dengan ubin dan berdengung cukup lama. Menaiki lift terdengar suara mesin yang bising, mungkin suara ballast. Di lantai 8 PAU, terdengar suara kendaraan bermotor dari kejauhan, burung burung bersiul terdengar lebih keras, dan terdengar suara orang yang berteriak sambil bermain bola di saraga. Dalam perjalanan pulang, ketika kembali melewati sipil, terdengar suara seperti orang sedang menempa, dan juga suara benda berukuran besar seperti terbanting dengan keras.” – Astra Goldie

“Terdapat beberapa hal yang cukup menarik dari soundwalk ini. Ketika melakukan soundwalk, saya merasa sebuah hal yang berbeda karena pada saat itu saya lebih banyak menggunakan indra pendengaran saya, sehingga beberapa hal yang terkadang abai untuk didengar melalui soundwalk ini dapat terdengar dengan baik. Dari awal rute hingga akhir rute, suara yang banyak terdengar adalah suara kendaraan. Suara ini berasal baik dalam kampus maupun dari luar kampus (pada rute lingkar luar). Mungkin terdengar agak aneh, namun kampus yang seharusnya menjadi tempat yang minim gangguan suara justru terdapat gangguan suara berupa suara kendaraan, baik itu suara mobil, motor, pesawat terbang bahkan suara bising dari knalpot modifikasi. Pada beberapa bagian kampus terdengar juga suara pekerjaan dari pekerja berupa suara sapu serta suara garukan tanah. Uniknya saya baru menyadari tenayata pada beberapa titik masih terdengar suara burung-burung berkiacauan terutama pada daerah berpohon. Karena saya berjalan maka terdengar suara langkah kaki serta beberapa langkah kaki orang lain yang berjalan, suara dentingan antar handel-resleting pun dapat terdengar. Di lingkar luar, sempat terdengar suara yang berasal dari radio beraliran musik dangdut. Ketika saya melewati lingkar dalam tepatnya di sunken court yang merupakan tempat kegiatan mahasiswa, terdengar suara beragam, dari suara obrolan, tawa, sapaan hingga suara gitar. Ketika saya tidak sengaja menginjak ubin yang sudah agak terlepas, suara ubin tersebut terdengar dengan cukup jelas. Di daerah sekitar pusat gaung sebelum kembali ke daerah kolam Indonesia Tenggelam, terdengar suara roda yang berasal dari tempat sampah beroda yang dibawa oleh petugas kebersihan. Demikianlah suara-suara yang saya dengar serta pengalaman soundwalk saya ketika melakukan hal tersebut di daerah barat laut kampus ITB.” – William Anthony

“Soundwalking adalah kegiatan merasakan dan mendengar suasana yang ada di sekitar sepanjang rute perjalanan. Rute yang dipilih berada di area lingkungan kampus ITB, yaitu mulai dari gedung labtek VI sampai parkiran sipil. Kegiatan dimulai pada sore hari di hari Kamis sekitar pukul 16.00 WIB dan memakan waktu 15menit. Suasana pertama mulai dirasakan pada labtek VI dimana kondisinya tidak begitu ramai hanya terdengar beberapa mahasiswa berdiskusi di lantai 2. Sampai di lantai dasar suasana nya sepi tidak ada mahasiswa lalu lalang tetapi mulai terdengar suara petir. Perjalanan dilanjutkan menuju labtek V, saat melewati mushola IF terdengar suara mahasiswa dan mahasiswi yang sedang menjalankan ibadah, mulai dari suara air mengalir, suara orang wudhu, suara orang sedang shalat berjamaah. Lewat sedikit dari mushola suara-suara yang terdengar berubah menjadi diskusi dan canda-tawa dari kumpulan mahasiswa IF yang sedang duduk-duduk di depan HMIF. Tetapi suara mereka tetap terkalahkan oleh suara petir yang kembali datang menggelegar. Sambil terus berjalan tak terasa sampai di area jalan antara area parkir labtek V dengan gedung fisika, terdengar suara motor yang sedang di-starter dan suara mesin mobil dari mobil yang melintas. Masih terus berjalan sampailah di area dekat HIMAFI, di area ini suara yang terdengar dapat dibilang beragam dan tidak berhubungan satu sama lain, menimbulkan kesan ramai bising gaduh; mulai dari suara gamelan, suara mobil, suara orang bermain pingpong, suara mahasiswa menyanyi dan sampai pada suara petir yang kembali terdengar. Tanpa berhenti berjalan sampailah di area dekat Aula Barat, berkebalikan dengan suasana ramai sebelumnya, suasana di area ini justru tenang dan tidak bising walaupun bisa dibilang jaraknya tidak jauh dari area HIMAFI, sesekali terdengar langkah kaki, suara mobil dan suara petir yang kembali menggelegar. Ingin rasanya duduk sebentar tetapi karena suara petir dan terlihat langit mulai mendung maka perjalanan dilanjutkan kembali menuju area parkir sipil. Sebelum mencapai area parkir, area yang harus dilewati adalah area lapangan sipil, pada area ini terdengar suara motor dan mobil serta dari kejauhan terdengar ada suara anjing menggonggong dan kembali suara petir datang. Perjalanan pun mencapai akhirnya yaitu area parkiran sipil, pada area ini terdengar suara klakson dari kejauhan dan suara motor yang sedang berbaris menuju keluar parkiran. Kegiatan ditutup dengan datangnya suara petir yang kembali menggelegar.” – Angelica

“Dari kuliah di luar kelas hari itu, saya menyadari bahwa di beberapa tempat di ITB masih ada suara kicau burung dan bunyi serangga yang terdengar. Beberapa tempat itu adalah di selasar arsitek dan taman dekat parkiran seni rupa. Sementara itu noise terbesar yang dijumpai selama pengamatan adalah suara knalpot motor dan mesin pemotong rumput, disamping suara obrolan para mahasiswa yang berpapasan dengan rombongan kami. Hal ini sangat menarik karena di tengah keadaan kampus yang dapat dibilang hiruk pikuk, ternyata masih ada kicau burung dan suara serangga, juga suara percik air di sekitar Indonesia tenggelam. Sangat menyenangkan sebenarnya, mengingat letak kampus ITB yang berada di tengah business area di Bandung, suara-suara alam ini memberi sedikit rasa tenang di tengah rush hour yang seakan selalu membuat semua orang tergesa-gesa. Semoga saja burung-burung dan serangga ini tidak menghilang setelah proyek-proyek pembangunan di ITB selesai.” – Ran Kurogane

“Kolam Indonesia Tenggelam menjadi titik start dari jalan‐jalan di pagi ini. Tempat yang pertama kali dilewati yaitu area Labtek V. Disini kondisinya cukup nyaman untuk kegiatan perkuliahan, hanya sesekali ada suara mobil yang hendak parkir. Begitu pula ketika melewati gedung Fisika. Suasananya hening tapi seringnya kendaraan yang lalu lalang di jalan sebelahnya cukup mengganggu. Kondisi yang sangat berlawanan terjadi di area Aula Barat. Suara burung‐burung yang berkeliaran disitu nyaris hilang sama sekali karena ditimpali oleh suara kendaraan bermotor, terutama sepeda motor, yang selalu melintas di daerah itu. Daerah selanjutnya yang dilintasi adalah jalan di dekat BSC A dan bekas gedung Pramuka. Daerah ini cukup tenang, walaupun di jalan Tamansari terdengar kendaraan yang lalu lalang dan juga bunyi klaksonnya. Daerah GKU Barat menutup perjalanan ini, suara dari kantin seperti yang dikatakan oleh Pak Joko sepertinya sangat signifikan dalam menyumbang derau terhadap ruangan kelas di GKU Barat. Hal lain yang hilang dari daerah ini adalah saat pertama kali kuliah di GKU Barat jam 7 pagi, masih sering terdengar suara binatang, entah dari tupai atau dari penghuni Kebun Binatang.” – Ahmad Ibrahim

Hanya satu yang terlintas dalam benak ketika memutuskan untuk menelusuri arah barat laut Institut Teknologi Bandung: saya ingin mendengar keheningan. Bagaimanapun, untuk sebuah kampus yang terletak di tengah kota dan dihuni oleh ribuan mahasiswa, keinginan itu tak lebih dari sebuah anganangan. Ketika melangkah di antara Labtek VI dan Labtek Biru, terdengar obrolan dari segala arah. Berbelok menuju gedung Teknik Mesin, suara pompa kolam mesin membuyarkan keheningan yang hampir saya dapatkan. Lingkar luar barat laut yang saya lewati pun riuh dengan gemuruh kendaraan dari Jalan Tamansari, lengkap dengan klakson yang berteriak mengusir para penyeberang jalan. Sampai di gedung SBM, sama saja, ditambah dengan banyaknya kendaraan yang keluar-masuk lewat gerbang SBM. Di Sunken, percakapan yang terlalu hidup di sekretariat unit pun semakin menjauhkan saya dari keheningan. Begitu pula di sepanjang jalan dari Gedung Oktagon menuju TVST, keributan di setiap selasar gedung begitu mengganggu. Sepertinya saya berharap terlalu banyak untuk bisa bersahabat dengan keheningan.” – Adinda Bunga Juwita

“Dari kejauhan arah gedung TVST, terdengar suara orang sedang menyapu dan burung yang sautan karena banyak pohon yang berada disekitar Labtek 6 dan taman sebelah TVST. Selain itu terdengar suara pesawat dan suara
bercengkrama dari dalam kelas. Banyak tempat di ITB yang sebenarnya menarik karena kombinasi warna dan salah satunya tempat yang saya lewati ini, pohon-pohon yang disinari matahari, jalanan bersih, suara burung yang berkicau saling menyaut namun sayang area ini jadi tempat parkir sebagian sepeda motor dan mobil, padahal area ini dirasa tepat untuk suasana kampus dengan karakter untuk pejalan kaki atau bersepeda karena terlalu bising jika disandingkan dengan ruang kelas. Kucing menjadi fenomena di ITB karena banyak ditemui pula di area ini. Sampai di ujung Labtek Biru dengan suasana yang hijau-nya, memasuki daerah Teknik Mesin dan bersebrangan dari Labtek Biru yang identik dengan suara burung, suara mesin sudah bergemuruh dari sebuah ruangan dan sepanjang Laboratorium Teknik Mesin terdengar mesin-mesin bersuara.Selain suara mesin, jalanan menuju Gedung Teknik Industri sangat bising karena daerah ini berdekatan dengan Jalan Tamansari yang memiliki variasi suara mulai
dari motor dengan berbagai kecepatan, mobil, bus maupun truk-truk yang melewati jalanan tersebut. Sama halnya jalanan sebelah Gedung Teknik Industri, daerah SBM juga memiliki tingkat kebisingan yang sama ditambah suara orang-orang berjualan dari gerbangnya.Dari Gedung SBM selain orang bercengkarama terdengar suara pintu otomatis. Kami terus berjalan melalui jalanan Gedung PAU yang sangat sejuk disuguhi sinar-sinar matahari yang masuk ke celah-celah pohon yang rindang namun jalan ini banyak dilalui mobil membuat pejalan kaki tidak nyaman karena jalanannya pun terbatas dan suara dari Jalan Tamansari. Kami menuruni jalanan Sanken dengan pemandangan yang tidak terlalu enak karena ini adalah pusat kegiatan seni mahasiswa, jadi daerah ini sedikit acak-acakan dan hanya satu bahu jalan yang bisa dipakai padahal ada dua sisi. Hampir sampai ke pusat ITB lagi, melewati daerah Gedung Oktagon, Comlabs, TVST dan Gedung PLN saya sangat suka karena perpaduan warna hijau
taman-taman dengan berbagai bunga-bunga serta warna kuning sinar matahari pagi saat itu yang begitu hangat. Tetapi ada yang lebih menarik dari pemandangan asri ini yakni suara gemericik air bagai memberi kesegaran dari dahaga, air mancur itu menjadi pusat bagai mata air di gunung dan semakin dengat suara air itu tidak hanya satu tetapi saling berirama dari jalur air yang dibuat.” –  Sri Indah

“Menyelusuri koridornya, saya dapat merasakan aliran angin dengan suara yang rendah yang lalu menyapu rumput-rumput di halamannya. Seolah, saya dapat kembali merasakan daerah dago delapan puluh tahun lalu yang menjadi tempat favorit bagi para petinggi petinggi penjajah kala itu. Bentuk bangunan yang tak banyak diubah membuat kesannya seolah masih terasa hingga kini. Jalanan di arah barat dari gedung ini pun menyimpan nilai tersendiri. Banyaknya pohon rindang membuat suara-suara burung dan beberapa serangga masih dapat dinikmati dengan baik ketika hening. Jalanan yang lega, rumput yang hijau, senada dengan rindangnya kebun binatang bandung yang ada disebrangnya. Sayang, jalan tamansari kini sudah terlalu ramai. Bila jalanan sedang ramai, kicauan burung akan seketika senyap tergantikan.” – Umar Hanif

“Pada hari Kamis, 6 Maret 2014 lalu, saya dan beberapa kawan saya berkeliling ITB khususnya di area tenggara (gedung SAPPK, FSRD, Teknik Lingkungan, Teknik Geodesi, sekretariat LFM, Aula Timur, dan sekitar area parkir ITB di dekat FSRD). Saya cukup terkesan dengan suasana akustik di sekitar sekretariat LFM. Di sana saya mendengarkan kombinasi bunyi-bunyian yang ditimbulkan oleh percakapan-percakapan orang di LFM dan suara kendaraan yang lewat dari Jalan Ganesha. Namun saya lebih terkesan pula dengan suara peluit tukang parkir atau petugas keamanan yang berasal dari depan gerbang utama ITB. Suara yang melengking keras tersebut menguatkan suasana bahwa daerah depan ITB merupakan daerah yang padat aktivitas manusia khususnya dalam kaitannya dengan pengendalian lalu lintas.” – A.K. Pamososuryo

“Untuk sound walk kali ini, saya menggunakan rute dari barat daya menuju barat dari Kampus ITB. Saya memulai perjalanan saya dari lapangan parkir sipil – gedung Program Studi Fisika – Labtek VI – GKU Barat – Campus Center Barat dan saya sempat beristirahat pada lantai dua gedung Labtek VI. Suara yang saya dengar pada saat di lapangan parkiran sipil adalah suara kendaraan bermotor yang menurut saya sangat menganggu kenyamanan. Pada saat saya
berjalan menuju labtek VI dan GKU Barat, suara kicauan burung dan deruan angin sangat terdengar terutama pada gedung labtek VI lantai 2. Menurut saya suara ini dapat memberikan perasaan tenang, sangat cocok untuk mengerjakan tugas dimana ketenangan dan keheningan sangat diperlukan. Setelah itu, saya berjalan ke arah Campus Center Barat, di tempat ini suara didominasi oleh suara percakapan dan suara alat musik yang dimainkan. Walaupun sangatramai, saya merasa nyaman di tempat ini, karena adanya alunan musik daerah yang dimainkan oleh unit kesenian mahasiswa.” – Andreas

“Pada soundwalk yang saya alami, saya dapat menyimpulkan bahwa kampus ITB di pagi hari dapat memberikan suasana yang nyaman dan tentram untuk beraktifitas. Saya mengawali soundwalk saya di Plaza Widya Nusantara, dimana suara kicauan burung berpadu dengan suara petugas kebersihan yang menyapu dedaunan, menimbulkan kesan sebuah taman kota yang asri dan tenang. Namun persepsi saya mulai berubah ketika saya mulai berjalan ke arah barat laut melewati lingkar luar barat kampus ITB. Kesan asri dan tenang tersebut dengan cepat berubah karena suara bising kendaraan bermotor yang melewati jalan Tamansari dengan mudahnya bercampur dengan suara lainnya, menimbulkan kesan bahwa saya sedang berjalan di samping jalan raya langsung. Kesan tersebut semakin didukung dengan suara peluit para satpam yang mengatur akses keluar masuk kendaraan ke dalam kampus ITB dan juga suara stereo tukang ojek yang cukup keras hingga dapat didengar dari dalam area kampus. Persepsi saya akan lingkungan sekitar kemudian berubah kembali ketika saya berjalan melewati sunken court, dimana suara aktifitas mahasiswa terdengar dengan jelas, menimbulkan kesan bahwa saya sedang berada dalam sebuah public space yang cukup ramai dan penuh kegiatan. Setiap daerah Kampus ITB memiliki karakternya masing-masing  yang memberikan persepsi yang berbeda-beda terhadap lingkungan sekitar.” – A.C. Nugroho

“Saya memilih mengitari ITB daerah barat laut. Dimulai dari depan Labtek 7, saya dan teman-teman memulai soundwalk. Selama melakukan soundwalk, saya mendengarkan lingkungan yang saya lewati, dimulai dari suara kicauan burung, sapu, gerobak sampah yang ditarik sampai kendaraan bermotor yang lalu lalang di dalam ITB. Di daerah sekitar Mesin, yang awalnya saya kira sepi ternyata banyak suara yang saya dengar di sana selain suara burung. Selain kendaraan bermotor di dalam ITB, suara kendaraan bermotor juga sangat terdengar jelas di daerah gerbang belakang SBM karena jaraknya yang sangat dekat dengan jalan raya. Setelah dari SBM, jalur yang diambil setelah melewati SBM adalah jalur Sunken, selama berjalan di Sunken, realitanya sama seperti yang saya bayangkan sebelumnya, dipenuhi oleh suara mahasiswa-mahasiswa di unit-unit yang ada di Sunken, dan suara alat musik seperti gitar, genderang yang dimainkan. Selain itu di beberapa tempat juga masih ada yang sepi, yang hanya terdengar suara burung di sana.” – Pramudhita

“Sebelumnya saya sudah cukup sering mendengarkan suara-suara di sekitar kampus ini, terutama pada pagi dan petang ketika pergi dan pulang setelah sembahyang di Masjid Salman dari depan kampus ITB ke daerah Sunken Court. Suara yang biasa saya dengar tidak banyak karena pada pagi hari kampus masih sangat sepi dan sesekali hanya terdengar suara daun bergesekan karena angin atau serangga-serangga malam. Soundwalk yang kami lakukan pada mata kuliah ini memberikan persepsi yang jauh berbeda daripada yang sering saya dapatkan pada pagi hari. Kampus yang begitu sepi pada pagi hari bisa menjadi sangat ramai pada siang hari. Kami memulai soundwalk dari air mancur Indonesia Tenggelam sehingga dari awal kami mendengarkan suara air mancur yang cukup terdengar dari selasar empat Labtek. Kemudian pada selasar Labtek V juga terdengar suara pompa air yang mungkin menggerakkan air pada air mancur, sesekali juga terdengar suara kegiatan perkuliahan di Labtek V. Di lingkungan ITB ini sering sekali ditemukan kawanan burung karena memang terdapat larangan mengganggu kawanan burung di daerah ini sehingga kami sering mendengar suara berbagai macam burung sepanjang perjalanan kami. Akan tetapi, begitu mendekati daerah lapangan sipil, suara kendaraan bermotor semakin banyak terdengar. Hal ini karena di daerah tersebut terdapat salah satu gerbang masuk ke dalam kampus dan bersebelahan dengan jalan Tamansari yang selalu ramai pada siang hari. Kami juga mendengar suara pemotong rumput dari petugas kebersihan di gedung Basic Science Center A dan masih sering kami dengar suara burung di daerah lingkar barat kampus yang masih penuh dengan pepohonan. Setelah itu kami kembali ke daerah air mancur untuk berkumpul dan menceritakan pengalaman kami ketika perjalanan.| – P.H. Purwoko

“Sebuah kampus yang asri adalah hal pertama kali saya pikirkan ketika pertama kali masuk ke kampus gajah ini. Lalu kemudian kamis 6 Maret 2014, saya dan kawan-kawan yang mengambil mata kuliah topik khusus A berkeliling kampus untuk ‘merasakan’ kampus dengan cara yang berbeda. Saya dan beberapa teman memilih untuk mengitari area barat laut. Dimulai dari gemericik air mancur indonesia tenggelam, suara aliran air dari plaza widya, kemudian mengambil ke arah kiri ke arah Prodi Mesin. Dijalanan tersebut terdengar bunyi kendaran-kendaraan yang berseliweran dan juga bunyi kompresor dari outdoor unit AC Split dari gedung Labtek 6. Selanjutnya kami mengambil arah ke kolam mesin menuju lingkar barat ITB. Di area tersebut terdengar suara pompa kolam dan juga suara berbagai mesin dari dalam bangunan-bangunan. Saat melewati area lingkar barat, suara didominansi oleh bising dari jalan tamansari, selanjutnya dari area pembangunan di wilayah Prodi Matematika, dan juga suara gemerincing minyak di kantin SBM. Di area gerbang SBM, suara peluit satpam, musik dangdut, dan riuh kendaraan bermotor menjadi satu. Selanjutnya area Sunken Court diramaikan oleh suara percakapan mahasiswa, juga ditemani oleh petikan gitar. Area TVSt dan Oktagon ditemani oleh kicauan burung, suara langkah kaki dan tong sampah yang dibawa oleh petugas kebersihan. Ternyata selain pemandangannya yang asri, kampus ini menyimpan banyak suara yang menarik.” – M.M. Akbar

“Rute yang saya lalui adalah Plaza Widya – Plaza tengah Campus Center – Gerbang depan ITB – Lapangan Aula Timur _ Selasar Arsitektur – Jalan dalam sisi Timur – Perpustakaan – Plaza Octagon/TVST – Plaza Widya. Di sepanjang rute perjalanan, sound source yang membuat nyaman adalah suara kicauan aneka burung dan suara tonggeret (atau garengpung dalam bahasa Yogya). Sayang sekali persepsi nyaman mendengar kicauan burung ini seringkali terganggu oleh suara bising yang dihasilkan oleh knalpot motor yang tanpa henti melintas di beberapa bagian rute perjalanan. Tampaknya perlu dipikirkan ulang kebijakan mengijinkan motor masuk kampus ITB. Secara umum, di poros tengah kampus ITB, dipersepsi berbagai aktifitas yang mempengaruhi fungsi audial, dengan komponen bising utama yang mengganggu adalah bising kendaraan bermotor. Kondisi sonic environment yang paling nyaman adalah di Plaza Widya Nusantara (suara air mancur dominan), dekat Aula Timur (suara kicauan burung dan tonggeret) dan di pojok gedung Arsitektur (kicauan burung), serta di sebelah timur perpustakaan (kicauan burung). Pada area-area tersebut level tranquility masih terasa cukup baik.” –  Joko Sarwono

“Untuk tugas ini, kami memilih jalur barat daya. Perjalanan kami dimulai dari kolam Indonesia Tenggelam, berbelok ke selasar Labtek 5, melewati TU FTI, lalu berbelok ke jalur teduh yang melewati secretariat HIMAFI, berbelok menyusuri lorong-lorong ruang kelas di bagian sipil hingga berhenti sesaat di jalan utama dekat parkiran sipil. Selanjutnya kami menyusuri jalan hingga dekat pertigaan yang mengarah ke GKU Barat, lalu berbelok ke GKU Barat, melewati lorong labtek 6 hingga kembali ke kolam Indonesia Tenggelam. Pada awal keberangkatan, suasana kampus masih sepi, maklum, pukul 9 bukanlah jam umum mahasiswa beristirahat. Suara dosen sayup-sayup terdengar dari balik pintu ketika kami melewati lorong ruang kelas. Lorong Fisika pun tidak berisik seperti biasanya, karena tidak ada yang berkumpul pada saat itu. Memasuki jalur dekat parkiran sipil, kebisingan mulai terdengar. Mulai dari suara mesin motor yang sedang diparkirkan, derum knalpot dan mesin mobil hingga klakson dari arah jalan tamansari. Menjauhi jalan tamansari, semakin kecil pula kebisingan yang terdengar. Tidak ada yang terlalu unik selama soundwalk kami, tidak pula banyak terdengar suara tonggeret, hanya kicau burung dan suara anak-anak kucing yang sedang bermain-main disekitar lorong fisika dan sipil.” – Avi Melati

“Apa yang saya pendengaran saya rasakan selama saya melakukan pengamatan sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa. Saat mengamati area sepanjang jalanan, saya mendengar suara orang menyapu, suara langkah kaki orang yang berjalan, suara burung-burung yang (mungkin) sedang bertengger di pohon, dan suara kendaraan bermotor. Saat melintasi laboratorium, saya mendengar suara-suara alat-alat laboratorium yang sedang dinyalakan. Saat melewati sunken court, suara orang-orang yang sedang bercakap sangat terdengar jelas.  Namun terdapat satu hal yang mungkin bisa saya sebut sebagai hal yang unik, yaitu “gradasi” soundscape-nya. Perubahan soundscape dari satu area ke area lainnya sangatlah drastis. Dari area yang menenangkan ke area yang relatif “berisik”, transisinya menurut saya hampir tidak ada. ” – Ega Risandy

“Daerah yang saya lewati pada soundwalking kali ini adalah daerah tenggara ITB, dengan rute Plaza Widya – Labtek VIII – Selasar Teknik Lingkungan – Himpunan IMG – Selasar Geodesi – Planologi – Parkir SR – Jalan Ganesha – Lapangan SR – Aula Timur – ATM Centre – Campus Centre – Plaza Widya. Secara umum saya menangkap suasana akustik yang cukup nyaman selama berjalan di daerah tenggara ITB. Pepohonan yang cukup rimbun di dekat parkiran SR nampaknya menjadi tempat hinggap burung dan serangga karena suara dari binatang-binatang tersebut cukup mendominasi dan memberi persepsi tenang. Sumber suara lain yang memberi persepsi nyaman adalah suara air mancur di Plaza Widya. Sayangnya masih ada sumber suara yang memberi suasana kurang nyaman, yaitu suara dari kendaraan bermotor yang melintas. Namun intensitasnya tidak terlalu tinggi karena daerah tenggara ITB cukup jarang dilalui kendaraan. Hal lain yang menarik adalah adanya perbedaan yang cukup mencolok antara suasana di Jalan Ganesha dengan jalan di dekat Aula Timur. Adanya lapangan rumput ternyata cukup mampu mereduksi kebisingan dari lalu lintas Jalan Ganesha.” – Sigit Yudanto

“Saya mengambil arah ke timur laut. Diawali dari Plaza Widya, berlanjut ke Labtek VII, kantin Bengkok, belakang kantin Bengkok dan melewati himpunan timur jauh, pool bus, parkir utara, gerbang belakang, masuk gedung PAU sampai lantai 8, depan Comlabs, berbelok ke lorong antara gedung Mekanika Tanah , dan diakhiri di Plaza Widya. Suara yang banyak terdengar di area tengah kampus (sekitar Plaza Widya, kantin Bengkok, Comlabs, dan antara Mekanika Tanah serta PLN) adalah suara kendaraan bermotor, unit AC outdoor, dan suara petugas kebersihan sedang menyapu. Di lingkar luar kampus (belakang kantin Bengkok, himpunan timur jauh, dan parkir utara) banyak terdengar suara burung. Setidaknya ada 5 suara burung berbeda yang dapat terdengar. Karena banyaknya suara burung yang dapat terdengar, daerah ini sedikit lebih menenangkan dibanding area tengah kampus yang banyak aktivitas manusia. Saya naik ke lantai 8 gedung PAU, di sana dapat terdengar jelas suara beberapa burung dan suara kendaraan bermotor yang melintasi gerbang belakang kampus. Keluar dari PAU, melintasi area Sunken Court yang suasananya sangat “mahasiswa”, ada suara mahasiswa bercakap-cakap dan musik-musik dari unit kesenian di sana.” – Felicia Shawny

One thought on “Soundwalk di Kampus ITB

  1. Terima kasih sudah berbagi, Pak.

    Menarik ya hasil dari soundwalk ini. Saya jadi ikut membayangkan ITB tempo dahulu–mungkin sekitar 30-40 tahun yang lalu–seperti yang orang tua saya suka ceritakan. “Dulu Bandung belum seperti sekarang, yang pakai motor baru sedikit.” Motor baru sedikit, sepertinya mobil pun masih sedikit.
    Jadi terbayang di benak saya, alangkah luar biasanya ITB zaman itu. Ketenangan kampus tidak dinodai oleh bisingnya suara kendaraan, melainkan dihiasi kicauan burung, bunyi angin dan dedaunan, suara gesekan sapu dengan aspal, suara air, bunyi kring kring dari sepeda, dan bunyi-bunyi indah lainnya. Yang jelas polusi suara tidak setinggi sekarang ini.

    Bila ada kesempatan, ingin (meskipun hanya sekali) mencicip ketenangan ITB tempo dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s