Parameter akustika ruangan yang paling banyak dikenal orang adalah Waktu Dengung (Reverberation Time – RT). RT seringkali dijadikan acuan awal dalam mendesain akustika ruangan sesuai dengan fungsi ruangan tersebut. RT menunjukkan seberapa lama energi suara dapat bertahan di dalam ruangan, yang dihitung dengan cara mengukur waktu peluruhan energi suara dalam ruangan. Waktu peluruhan ini dapat diukur menggunakan konsep energi tunak maupun energi impulse. RT yang didapatkan berdasarkan konsep energi tunak dapat digunakan untuk memberikan gambaran kasar, waktu dengung ruangan tersebut secara global. RT jenis ini dapat dihitung dengan mudah, apabila kita memiliki data Volume dan Luas permukaan serta karakteristik absorpsi setiap permukaan yang ada dalam ruangan. Sedangkan RT yang berbasiskan energi impulse, didapatkan dengan cara merekam response ruangan terhadap sinyal impulse yang dibunyikan didalamnya. Dengan cara ini, RT di setiap titik dalam ruangan dapat diketahui dengan lebih detail bersamaan dengan parameter-parameter akustik yang lainnya.
RT pada umumnya dipengaruhi oleh jumlah energi pantulan yang terjadi dalam ruangan. Semakin banyak energi pantulan, semakin panjang RT ruangan, dan sebaliknya. Jumlah energi pantulan dalam ruangan berkaitan dengan karakteristik permukaan yang menyusun ruangan tersebut. Ruangan yang dominan disusun oleh material permukaan yang bersifat memantulkan energi suara cenderung memiliki RT yang panjang, sedangkan ruangan yang didominasi oleh material permukaan yang bersifat menyerap energi suara akan memiliki RT yang pendek. Ruangan yang keseluruhan permukaan dalamnya bersifat menyerap energi suara (RT sangat pendek) disebut ruang anti dengung (anechoic chamber), sedangkan ruangan yang keseluruhan permukaan dalamnya bersifat memantulkan suara (RT sangat panjang) disebut ruang dengung (reverberation chamber). Ruangan-ruangan yang kita tempati dan gunakan sehari-hari, mulai dari ruang tidur, ruang kelas, auditorium, masjid, gereja dsb akan memiliki RT diantara kedua ruangan tersebut diatas, karena pada umumnya permukaan dalamnya disusun dari gabungan material yang menyerap dan memantulkan energi suara. Desain bentuk, geometri dan komposisi material penyusun dalam ruangan inilah yang akan menentukan RT ruangan, sekaligus kinerja akustik ruangan tersebut.
Berikut ini adalah gambaran RT yang ideal untuk beberapa fungsi ruangan sesuai dengan volumenya.

Hallo Pak Joko, apa kabar?
Ternyata Anda punya blog tho..
Bagus Pak, sangat informatif.
Sukses selalu.
Salam
Atok
Slamat siang pak joko
saya mau tanya kenapa dalam pengukuran akustik selalu memakai frek 63 hZ sampai 8 Khz mengapa tidak dari 20 Hz sampai 20 Khz?
terus apa yang dimaksud dengan tapis 1/3 oktaf?
mengapa harus memakai tapis 1/3 oktaf?
dan apa yang dimaksud frekuensi 1/3 oktaf
kemarin sya menemukan parameter C 80,bisa bapak tolong jelaskan secara teknis apa artinya,soalnya ketika melihat penulisan C 80 secara matematis saya bingung artinya apa?
dan pengertian secara elektroakustiknya g mana?
Mengapa 63 Hz – 8 kHz? tergantung kebutuhan saja….. kalau tidak ada sinyal yg dibawah 63 Hz, ya mengapa mesti sampai 20 Hz…kurang lebih begitu….., tapi tidak dilarang kok mengukur 20 Hz – 20 kHz…
1/3 oktaf artinya membagi 20 Hz – 20 kHz menjadi 31 band frekuensi tengah (diskrit)…. jd sebenarnya ini merupakan diskritisasi range kontinu menjadi range yg diskrit (diwakili sejumlah frekuensi tengah)…. mengapa harus 1/3 oktaf, ya supaya lebih detail saja perwakilannya…..
C80 merupakan perbandingan antara energi yang datang ke pendengar pada 80 ms awal terhadap energi yang datang setelah 80 ms (atau energi dengung). ini menunjukkan ukuran clarity (kejernihan) untuk sinyal akustik berupa musik dalam ruangan.