Sebuah ruangan yang didesain untuk suatu fungsi tertentu, baik yang mempertimbangkan aspek akustik maupun yang tidak, seringkali dihadapkan pada problem-problem berikut:
1. Focusing of Sound (Pemusatan Suara) : Masalah ini biasanya terjadi apabila ada permukaan cekung (concave) yang bersifat reflektif, baik di daerah panggung, dinding belakang ruangan, maupun di langit-langit (kubah atau jejaring kubah). Bila anda mendesain ruangan dan aspek desain mengharuskan ada elemen cekung/kubah, ada baiknya anda melakukan treatment akustik pada bidang tersebut, bisa dengan cara membuat permukaannya absorptif (mis. menggunakan acoustics spray) atau membuat permukaannya bersifat diffuse.
2. Echoe (pantulan berulang dan kuat): Problem ini seringkali dibahasakan sebagai gema, yang menurut saya pribadi adalah terjemahan yang kurang tepat. Echoe disebabkan oleh permukaan datar yang sangat reflektif atau permukaan hyperbolic reflektif (terutama pada dinding yang terletak jauh dari sumber). Pantulan yang diakibatkan oleh permukaan-permukaan tersebut bersifat spekular dan memiliki energi yang masih besar, sehingga (bersama dengan delay time yang lama) akan mengganggu suara langsung. Problem akan menjadi lebih parah, apabila ada permukaan reflektif sejajar di hadapannya. Permukaan reflektif sejajar bisa menyebabkan pantulan yang berulang-ulang (flutter echoe) dan juga gelombang berdiri. Flutter echoe ini bisa terjadi pada arah horisontal (akibat dinding sejajar) maupun arah vertikal (lantai dan langit-langit sejajar dan keduanya reflektif).
3. Resonance (Resonansi): Seperti halnya echoe problem ini juga diakibatkan oleh dinding paralel, terutama pada ruangan yang berbentuk persegi panjang atau kotak. Contoh yang paling mudah bisa ditemukan di ruang kamar mandi yang dindingnya (sebagian besar atau seluruhnya) dilapisi keramik.
4. External Noise (Bising): Problem ini dihadapi oleh hampir seluruh ruangan yang ada di dunia ini, karena pada umumnya ruangan dibangun di sekitar sistem-sistem yang lain. Misalnya, sebuah ruang konser berada pada bangunan yang berada di tepi jalan raya dan jalan kereta api atau ruang konser yang bersebelahan dengan ruang latihan atau ruangan kelas yang bersebelahan. Bising dapat menjalar menembus sistem dinding, langit-langit dan lantai, disamping menjalar langsung melewati hubungan udara dari luar ruangan ke dalam ruangan (lewat jendela, pintu, saluran AC, ventilasi, dsb). Konsep pengendaliannya berkaitan dengan desain insulasi (sistem kedap suara). Pada ruangan-ruangan yang critical fungsi akustiknya, biasanya secara struktur ruangan dipisahkan dari ruangan disekelilingnya, atau biasa disebut box within a box concept.
5. Doubled RT (Waktu dengung ganda): Problem ini biasanya terjadi pada ruangan yang memiliki koridor terbuka/ruang samping atau pada ruangan playback yang memiliki waktu dengung yang cukup panjang.
Itulah beberapa problem yang umumnya muncul dalam ruangan yang memerlukan kinerja akustik. Kesemuanya dapat diminimumkan apabila sudah dipertimbangkan dengan seksama pada saat ruangan tersebut didesain. Apabila ruangan sudah telanjur jadi, maka solusi yang biasanya diambil adalah mengubah karakteristik permukaan dalam ruangan, misalnya dari yang semula reflektif menjadi absorptif ataupun difusif. Solusi tersebut biasanya melibatkan biaya yang tidak sedikit (karena ruangan sudah telanjur jadi). Oleh sebab itu, sangat disarankan untuk mempertimbangkan problem-problem tersebut pada tahap desain. Saat ini sudah banyak perangkat lunak yang dapat digunakan untuk memprediksi kinerja akustik suatu ruangan, meskipun ruangan tersebut belum dibangun, cukup dengan menginputkan geometri ruangan dan karakteristik permukaannya. Perangkat yang biasa digunakan para perancang akustik adalah ODEON, CATT Acoustics, RAMSETE, dan EASE.
Pak,mo tanya nih…saya nyambungin jack mick dari laptop langsung ke amplifier, tapi kenapa kok kemudian muncul suara dengungnya y Pak?
saya mo ambil data dengan menggunakan software truerta, tapi karena gangguan tersebut sehingga tidak bisa ambil data….ada saran Pak?
terima kasih
Pak Isman,
benar seperti kata Mas JS, check dulu impendansinya.
BTW, saya bingung penjelasan anda ttg yg mencolokan input (mic) ke output dari amplifier. Ini tidak boleh dilakukan! Karena input mic dari laptop tidak didesan untuk menerima output dari amplifier. Input mic didesain untuk menerima masukan device yg tidak ada penguatan sama sekali, jadi butuh pre-amp. Dan pre-amp nya didesain untuk condenser microphone http://en.wikipedia.org/wiki/Electret_microphone
Dari input mic akan dihubungkan ke pre-amp di dalam laptop baru ke DSP.
Amplifier anda sudah kuat sekali output powernya kalau dicolokin ke mic akan diperkuat lagi oleh pre-amp tadi. Masih untuk pre-amp di laptop anda tidak kebakar!
Solusinya, bawa PC yg ada soundcard yg proper, yg ada line-in nya (ini cara murah tapi ngerepotin), alternatifnya beli PCMCIA sound card yg ada line-in nya.
http://www.nextag.com/pcmcia-sound-card/search-html
Good luck…
Thanks GP untuk tambahan penjelasannya….
Bp.Joko
Bp Joko selamat malam
Tolong tanya untuk sound room, skala berapa yg ideal
ukuran sound room saya TxLxP 3.2 mx4.15 mx6.9 m
dan bass nya boomy,apa yg yg harus saya rubah ?
bagaimana saya bisa tahu di frekuensi berapa pastinya yg boomy ?
Terima Kasih
Harris